Minggu, 19 Mei 2013

ISLAM AGAMAKU

DOA MUSTAJAB BAKDA SHOLAT

Muadz ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah menggandeng tangannya seraya bersabda, "Hai Muadz, demia Allah, aku mencintaimu. Aku menasehati, hai Muadz, jangan pernah kamu tinggalkan doa setelah setiap kali sholat. Ucapkanlah, "Allahuma ainni alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatika", Ya Allah tolonglah hamba untuk selalu mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu dan beribadah terbaik kepada-Mu. (HR Abu Daud & Nasai).

SubhanAllah, jadi sunnah membaca doa ini setiap selesai sholat, hikmahnya agar hati kita selalu dijaga Allah untuk selalu ingat Allah, kita pun dibimbing Allah untuk selalu bersyukur dan puncak kebahagiaannya adalah Allah ajarkan kita untuk menikmati kekhusyukan ibadah kepada-Nya.

Berusahalah untuk selalu membaca doa ini disetiap selesai sholat karena doa selesai sholat sangat mustajab... Insya Allah.

Sebarkanlah untuk dakwah anda kepada orang-orang terdekat agar menjadi manfaat. Insya Allah..

MIKROSKOP

Mikroskop

Mikroskop merupakan alat optik yang dapat digunakan untuk mengamati benda-benda mikro (benda-benda yang sangat kecil) yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.

Mikroskop pertama kali ditemuka oleh Antonie Van Leeuwenhoek. Mikroskop sederhana itu memiliki sistem satu lensa yang hanya mampu memperbesar bayangan menjadi satu tingkat lebih besar dari pada ukuran asli bendanya. Mikroskop yang umum dipakai saat ini adalah Mikroskop majemuk.
Perbesaran mikroskop diperoleh dari hasil kali perbesaran lensa obyektif dengan perbesaran lensa okuler.
Rumus : M mik = Moby x Mok .

A. Bagian mikroskop dikelompokkan menjadi tiga , yaitu ;
  1. Bagian Optik
Contoh ;   a. Lensa Obyektif yaitu lensa yang diarahkan pada benda yang akan diamati.
                 b. Lensa Okuler  yaitu lensa yang tepat pada mata pengamat.

  1. Bagian Mekanis
Contoh ; a.   Dasar mikroskop                                           
               b.   Tabung mikroskop               
               c.   Lengan atau penumpu             
               d.   Meja mikroskop                   
               e.   Pemutar halus dan pemutar kasar     
               f.    Revolver  
               g.   Klip atau penjepit

  1. Bagian Pencahayaan (Iluminasi)
Contoh ;  a. Diafragma
                b. Cermin cekung


B. Fungsi bagian-bagian mikroskop ;
                       

KODE
BAGIAN MIKROSKOP
FUNGSI
A
Lensa okuler
Memperbesar obyek yang diamati
B
Tabung mikroskop
Mengatur focus, dapat dinaikkan dan diturunkan
C
Revolver
Memilih lensa obyektif yang akan digunakan dengan cara memutar
D
Lensa obyektif (lemah)
Memperbesar bayangan obyek yang diamati dengan perbesaran lemah
E
Lensa obyektif (kuat)
Memperbesar bayangan obyek yang diamati dengan perbesaran kuat
F
Meja mikroskop
Tempat meletakkan obyek yang akan diamati
G
Klip/penjepit
Menjepit preparat atau obyek  agar kedudukannya stabil
H
Kaki mikroskop
Menjaga agar mikroskop dapat berdiri dengan stabil di atas meja
I
Cermin
Memantulkan cahaya kedalam lubang diafragma
J
Diafragma
Mengatur pencahayaan
K
Lengan mikroskop
Pegangan untuk membawa mikroskop
L
Pemutar halus
Untuk menaikkan dan menurunkan tabung mikroskop secara pelan-pelan
M
Pemutar kasar
Untuk menaikkan dan menurunkan tabung mikroskop secara  cepat
N
Kaki Mikroskop (dasar)
Penyangga/tegaknya mikroskop
                       
                                   
C. Prosedur Penggunaan Mikroskop
  1. Mikroskop selalu dibawa dengan dua tangan, tangan pertama menumpu bagian dasar / kaki mikroskop, sedang tangan yang lain memegang bagian pegangan mikroskop.
  2. Dalam keadaan tersimpan, lensa obyektif yang memiliki perbesaran lemah dan mikroskop dalam keadaan tegak.
  3. Pada saat melihat spesimen, pertama kali gunakan lensa obyektif yang memiliki perbesaran lemah, dengan urutan sebagai berikut ;
    1. Letakkan preparat (spesimen) pada meja mikroskop tepat pada ujung lensa obyektif, dan sambil melihat dari samping dekatkan lensa obyektif ke preparat secara pelan-pelan.
    2. Perhatikan bayangan melalui lensa okuler, dan dengan menggunakan pemutar kasar, gerakkan lensa obyektif menjauhi atau mendekati preparat.
    3. Atur posisi bayangan agar terlihat di tengah medan pengamatan.
    4. Bila bayangan belum terlihat, ulangi langkah a dan b.

Jika bayangan belum terlihat jelas, jangan menggunakan lensa obyektif yang meiliki perbesaran kuat.
  1. Pada saat memindahkan lensa obyektif dari perbesaran lemah ke perbesaran kuat, harus selalu melihat ke samping mikroskop supaya tidak terjadi benturan yang tiba-tiba antara lensa obyektif dengan preparat sehingga menyebabkan kerusakan atau pecahnya kaca preparat.
  2. Jangan mengarahkan cermin ke arah sinar matahari secara langsung, yang memantul ke mata sehingga dapat mengganggu penglihatan.
  3. Hti-hati menggunakan kaca penutup, karena mudah sekali pecah yang dapat melukai tangan apalagi kalau ditekan.

D. Prosedur Pemeliharaan Mikroskop
  1. Membawa mikroskop dalam keadaan tegak
  2. Hindarkan mikroskop dari benturan tiba-tiba
  3. Menyimpan mikroskop dalam kondisi tertutup (pembungkus mikroskop)
  4. Membersihkan lensa mikroskop menggunakan bahan-bahan yang aman misalnya tisu atau kertas lensa yang dibasahi alcohol, lisol, atau air sabun.
  5. Memelihara mikroskop selama pemakaian ;
    1. Memiringkan posisi mikroskop dengan cara memutar sambungan inklinasi.
    2. Jangan menyetel mikroskop (penyetelan diafragma, kondensor, tombol pemutar kasar dan pemutar halus) dengan cara paksa.

E. Prosedur Pembuatan Obyek pengamatan
  1. Menbuat sayatan
Untuk mengamati bagian-bagian obyek yang berukuran besar dengan menggunakan mikroskop,misalnya
Bagian dari batag, daun, atau akar tanaman, maka harus dibuat sayatan terlebih dahulu agar diperoleh obyek pengamatan yang jelas.
Sayatan adalah irisan tipis. Untuk membuat sayatan dengan ketebalan kurang dari 0,1 mm dengan menggunakan mikroton, yaitu pisau/karter yang tajam. Membuat sayatan dapat dilakukan secara melintang atau membujur sesuai dengan tujuan pengamatan.
Langkah-langkah membuatan sayatan batang secara melintang
a.    Jepit batang rapat-rapat dengan jari telunjuk dan ibu jari.
b.    Saat menyayat, posisi obyek sejajar dan sayatan dilakukan kearah dalam.
c.    Ulangi sayatan sampai didapatkan hasil sayatan yang paling tipis.
d.    Untuk membuat sayatan membujur, caranya hanya posisi batang dijepit dengan ibu jari dan telunjuk dengan arah membujur.

  1. Membuat preparat basah
Dalam pengamatan obyek dengan mikroskop, dapat dipersiapkan dua macam preparat, yaitu prepar yang  bersifat basah ( wet mount preparation ) dan preparat yang bersifat kering ( preparat awetan ).

Obyek yang akan diamati atau diperbesar dengan mikroskop disebut Spesimen.
Langkah-langkah membuat preparat basah ;
  1. Letakkan spesimen yang akan diamati dengan menggunakan pinset di atas kaca benda yang bersih tepat di tengah.
b.   Teteskan media (air atau gliserin) pada spesimen di atas kaca benda dengan menggunakan pipet tetes.
c.   Tutuplah spesimen menggunakan kaca penutup dengan hati-hati. Untuk memperkuat kedudukan kaca penutup, tekan salah satu sisinya dengan jari secara hati-hati, kemudian turunkan sisi yang lain perlahan-lahan dengan jarum.
d.   Kaca penutup secara keseluruhan bertumpu pada selaput tipis media (air atau gliserin).
e.   Usahakan tidak terdapat udara di antara kaca benda dan kaca penutup. Selain itu usahakan pula tidak ada air berlebihan di atas kaca penutup. Air yang berlebihan sebaiknya diserap dengan kertas lensa yang tipis dengan hati-hati.

Jumat, 17 Mei 2013

Kelahiran Bintang

KELAHIRAN BINTANG

1
Struktur, evolusi, dan nasib akhir sebuah bintang sangat dipengaruhi oleh massanya. Selain itu, komposisi kimia juga ikut mengambil peran dalam skala yang lebih kecil. Ruang antar bintang diisi oleh materi yang kemudian disebut sebagai materi antar bintang (instellar medium). Sebagian besar materi antar bintang adalah hidrogen dan sisanya adalah helium serta elemen berat lainnya (3-28%). Terkadang materi antar bintang nampak sebagai awan gas dan debu yang disebut nebula. Gambar 2 menunjukkan suatu nebula. Berdasarkan pengamatan, di sekitar awan tebal dari gas dan debu biasanya ditemukan bintang-bintang muda. Bintang diduga lahir dari awan gas dan debu.
Gambar 2. Materi antar bintang yang disebut nebula
Jika sebuah bintang cukup panas, gas yang ada di dekatnya dapat terionisasi menghasilkan nebula emisi. Nebula emisi merupakan nebula dengan spektrum emisi, biasanya menunjukkan garis-garis Balmer yang cukup kuat karena jumlah hidrogen yang melimpah. Terkadang sinar dari sebuah bintang terhambur oleh partikel debu di nebula, sehingga nampak nebula berwarna biru yang disebut dengan nebula pantulan. Keberadaan nebula yang tebal dan rapat dapat diketahui dari terhalangnya sinar dari bintang-bintang jauh yang nampak sebagai awan gelap. Materi antar bintang juga nampak dari garis serapan sempit kalsium dan natrium pada spectrum beberapa bintang-bintang kelas O dan B. Bintang kelas O dan B terlalu panas untuk memiliki spektrum kalsium dan natrium. Garis serapan bintang umumnya lebar karena adanya pelebaran Doppler akibat suhu bintang yang sangat panas. Keberadaan materi antar bintang juga dapat diketahui dari pengamatan pada panjang gelombang inframerah, sinar X, dan radio.
 Bintang terbentuk di dalam awan molekul. Awan molekul yaitu sebuah daerah medium antarbintang yang luas dengan suhu 10-30 K dan kerapatan tertinggi yaitu 1000 atom/cm3. Sebagian besar awan ini terdiri dari hidrogen, helium, dan beberapa persen elemen berat. Pada suhu rendah tersebut hidrogen berada pada fase molekul, oleh karenanya dikenal dengan nama awan molekul. Komposisi elemen dalam awan ini tidak banyak berubah sejak peristiwa nukleosintesis Big Bang pada saat pembentukan alam semesta. Gambar 3 menunjukkan pembentukan bintang dari awan molekul.
Gambar 3. Proses pembentukan protobintang dari awan molekul
(Denny Darmawan, 2008: 8)
Gravitasi mengambil peranan sangat penting dalam proses pembentukan bintang. Pembentukan bintang dimulai dengan ketidakstabilan gravitasi di dalam awan molekul. Ketidakstabilan ini seringkali dipicu oleh gelombang kejut dari supernova atau tumbukan antara dua galaksi. Akibat ketidakstabilan tersebut sekelompok materi antar bintang menjadi lebih mampat dari pada sekitarnya. Bagian luar awan tertarik oleh gaya gravitasi materi di bagian dalam, akibatnya awan akan mengerut dan mampat. Peristiwa tersebut disebut dengan kondensasi. Pengerutan atau keruntuhan awan molekul ini memakan waktu hingga puluhan juta tahun.
Sekali sebuah wilayah mencapai kerapatan materi yang cukup memenuhi syarat terjadinya instabilitas Jeans, awan tersebut mulai runtuh di bawah gaya gravitasinya sendiri. Instabilitas Jeans adalah syarat sebuah awan molekul runtuh untuk akhirnya membentuk bintang-bintang. Instabilitas Jeans sangat bergantung pada nilai kerapatan materi yang terkandung di dalam sebuah awan molekul. Syarat ini diturunkan oleh fisikawan BritaniaSir James Jeans pada tahun 1902. Kriteria Jeans atau panjang Jeans atau panjang gelombang Jeans adalah panjang gelombang gangguan yang dibutuhkan agar instabilitas Jeans tercapai. Kriteria Jeans dirumuskan sebagai berikut:
dengan   adalah konstanta gravitasi,   adalah rapat massa dan   adalah kecepatan suara di dalam awan. Agar instabilitas Jeans dapat tercapai, panjang gelombang gangguan harus lebih besar daripada kriteria Jeans ini.
Bintang tidak terbentuk sendiri-sendiri, melainkan dalam kelompok yang berasal dari suatu keruntuhan di suatu awan molekul yang besar, kemudian terpecah menjadi konglomerasi individual. Hal ini didukung oleh pengamatan dimana banyak bintang berusia sama tergabung dalam gugus atau asosiasi bintang. Begitu awan runtuh, akan terjadi konglomerasi individual dari debu dan gas yang padat. Pada proses ini energi gravitasi diubah menjadi energi panas sehingga suhu meningkat.
Ketika pecahan awan antar bintang kolaps akibat ketidakstabilan, suhu di tengah pecahan meningkat. Bagian tengah akan memanas dan berubah menjadi protobintang (cikal bakal bintang) yang diselimuti gas berdebu (nebula kepompong). Detail evolusi protobintang sulit diamati karena terhalang gas dan debu. Suhu inti protobintang terus meningkat hingga memicu reaksi fusi di tengah bintang dan menahan terjadinya kolaps lebih lanjut. Setelah mampu menyingkirkan gas debu yang menyelimutinya, protobintang berubah menjadi bintang deret utama. Gas debu yang menyelimuti protobintang terdiri dari sebagian besar hydrogen. Ketika peningkatan temperatur di inti protobintang mencapai kisaran 10 juta kelvin, hidrogen di inti 'terbakar' menjadi helium dalam suatu reaksi termonuklir. Reaksi nuklir di dalam inti bintang menyuplai cukup energi untuk mempertahankan tekanan di pusat sehingga proses pengerutan berhenti. Protobintang kini memulai kehidupan baru sebagai bintang deret utama.
Panas dari protobintang akan memanasi awan yang menyelimutinya. Awan tersebut akan memancarkan radiasi inframerah sehingga keberadaan protobintang dapat diketahui. Contoh protobintang yaitu bintang kelas T Tauri. Biasanya pada protobintang juga ditemukan semburan gas (jet) dikenal sebagai benda Herbig-Haro (HH). Semburan gas diduga berasal dari pirigan yang berputar di sekeliling protobintang. Piringan yang mengelilingi protobintang inilah yang diduga menjadi cikal bakal planet yang mengitari sang bintang.
Evolusi protobintang dapat digambarkan pada diagram H-R. Waktu yang diperlukan untuk menjadi bintang deret utama bergantung pada massa. Semakin masif maka semakin cepat evolusi protobintang. Pada awan molekuler raksasa, dapat terbentuk lebih dari satu bintang. Gelombang kejut akan “memecah” awan molekuler raksasa ke dalam awan yang lebih kecil. Awan-awan ini kemudian membentuk gugus/ cluster bintang (kumpulan bintang yang lahir bersamaan).
Tipe-tipe gugus bintang yaitu:
1.         Gugus terbuka
Gugus terbuka berukuran sedang (30 tahun cahaya), berkumpul agak longgar, dan biasa ditemukan di piringan galaksi.
2.         Gugus globular
Gugus globular berukuran besar (1 juta bintang, 60-100 tahun cahaya), berkumpul rapat, dan biasa ditemukan di piringan dan halo galaksi.
Ketika massa protobintang kurang masif untuk memicu reaksi fusi maka protobintang akan gagal menjadi bintang. Hal ini terjadi jika massa protobintang kurang dari 8% massa matahari. Protobintang mendingin dan kolaps lebih lanjut akan dihentikan oleh tekanan degenerasi (tekanan kuantum). Protobintang akan menjadi katai kerdil coklat (brown dwarf) atau bintang gagal. Contohnya adalah Gliese (GL) 229 dan Gliese (GL) 623 (katai coklat dengan massa 50 kali massa Jupiter).